ajarilah buah hati mengenal huruf huruf hijaiyah dari kecil

Posted on

Sebelum resign, selama kurang lebih 8 tahun, saya mengabdi sebagai guru taman kanak-kanak di salah satu wilayah di Sragen. Saya pernah menangani anak-anak kelas A (4-5th) dan kelas B (5-6th).
Baik kelas gabungan (putra-putri) maupun kelas khusus (putri atau putra saja)

Banyak sekali pengalaman hidup dan wawasan baru yang saya peroleh dari mereka. Ya iyalah, karena saat itu status saya masih single. Ciee ciee….. Dan setelah bergelut dengan dunia anak-anak sekian tahun, sedikit banyak jadi tahu bagaimana cara menangani mereka saat rewel, saat ada yang mogok sekolah, saat berantem dengan teman, ataupun saat Kegiatan Belajar Mengajar (KBM) berlangsung, termasuk di dalamnya mengajari dasar membaca Al Qur’an.

Di sekolahan kami, untuk kelas A biasanya disemester 1 hanya dikenalkan private membaca Iqro’ dahulu. Untuk membaca Aisma (huruf latin dikenalkan di semester 2). Dan untuk kelas B, 3 bulan pertama fokus private membaca Iqro’ dulu. Untuk bulan berikutnya ditambah dengan membaca Aisma (huruf latin). Mengapa demikian? Agar mereka bisa belajar fokus terhadap sesuatu, mereka juga tidak begitu bingung saat dihadapkan dengan membaca huruf latin. Karena pada kenyataannya ada kesamaan bunyi suku kata awal huruf (disekolahan saya mengenalkan membaca huruf latin pakai suku kata vokal A Ba ca da fa dan seterusnya, I Bi ci di fi dan seterusnya, U bu cu du fu dan seterusnya, termasuk vokal E dan O)

Langsung saja, saya akan memulai berbagi pengalaman saya dalam mengajarkan mereka dasar membaca Al Qur’an (huruf Hijaiyah). Ohya, perlu diketahui bahwa di sekolahan saya belajar dasar membaca Al Qur’annya yaitu memakai buku Iqro’ jilid 1-6 yang biasa beredar dipasaran.

Dalam mengenalkan huruf Hijaiyah dalam Iqro’ itu, saya seringnya menggunakan bantuan bunyi suku kata awal, lalu sambil menyebutkan nama benda yang sesuai dengan huruf Hijaiyah yang akan dijadikan bahan ajarnya. Terkadang untuk anak-anak tertentu harus pakai gambar juga. Sebagai contoh A ingat kata Apel atau gambar 🍎. Ba ingat Baju atau gambar 👕.
Jadi disini, anak ditekankan pada bunyi suku kata awalnya saja.

Berjalan muluskah? Alhamdulillah, ada yang langsung bisa memahami instruksi dan ada yang perlu diingatkan berulang kali. Untuk anak tipe gaya belajar audio, cukup kita bilang A, Ba, Ta, dan seteusnya ia biasanya langsung bisa mengikuti dan membacanya dengan lancar. Untuk anak tipe visual, biasanya kalau ada kesalahan setelah kita mengucapkan salah satu huruf hijaiyah, cara mengingatkannya harus dilihatkan pakai gambar. Jadi saya menggambarkan benda yang mendukung huruf Hijaiyah tersebut, tepat di dekat hurufnya.

Dan untuk tipe anak kinestetik ini, masyaa Allah tantangannya luar biasa. Ada saja alasan/kegiatannya untuk tidak duduk manis saat belajar membaca. Bagaimana cara menanganinya? Saat itu ya, saya turuti apa kemauannya. Misalnya saya tawarkan, mau membaca dengan Ustadzah siapa? Lalu misalnya pilihannya dengan Ust. A/B/C saya serahkan kepada Ustadzah yang diminta dengan catatan “belajar serius baca”.

Namun, jika pilihannya masih dengan saya, maka hayuk baca. Bila belum mau, saya tawarkan kembali tempat mana yang mau buat baca (didekat prosotan, dekat jendela kelas, bawah pohon dihalaman atau yang lainnya). Bila belum mempan semuanya, ya cari waktu yang tepat (saat istirahat, setelah pulang sekolah/saat nunggu jemputan datang) sambil memberikan info ke wali santri terkait mau/belum maunya si Anak belajar membaca.

Sesekali membuat tulisan huruf hijaiyah dan gambar di papan tulis, diucapkan bersama-sama. Terkadang juga menuliskan 1 halaman Iqro’ 1 untuk dibaca secara klasikal dikelas, dan beberapa anak-anak juga diberikan kesempatan maju didepan kelas secara kelompok sambil diberi tawaran membaca bersama atau menirukan Ustadzah.

Biasanya sih, anak kinestetik secara tidak langsung akan ingat apa yang diucapkan bersama-sama dikelas meskipun ia jarang duduk manis dikelas.

Dan cara belajar dasar membaca Al Qur’an melalui suku kata awal dan benda cukup efektif dan membantu anak didik kami saat membaca Iqro’ 1. Dan setelah saya berstatus sebagai Ibu dari 2 balitapun cara itu saya terapkan dirumah. Anak pertama saya, juga saya ajarkan seperti itu (khusus harokat fathah, kasroh dan dhommah).

Setelah resign, dan kakak sudah masuk sekolah Taman Kanak-Kanak (TK), baru saya membuatkan buku handmade “Hijaiyah Pertama untuk Anak Usia Dini” atau disingkat dengan “HP untuk AUD” untuk si Adik.

 

 

 

sumber cerita ini dikutib dari : https://pgpaud.universitaspahlawan.ac.id/belajar-mengenal-huruf-hijaiyah-dengan-metode-tepat-pada-anak-usia-dini/

Leave a Reply

Your email address will not be published.