Asal Usul Mazhab Abu Hanifah

Posted on

Asal Usul Mazhab Abu Hanifah

Mazhab Abu Hanifah sebagai gambaran yang jelas dan nyata tentang samaan hukum-hukum fiqih dalam islam dengan pandangan – pandangan masyarakat (socoty0 disemua lapangan kehidupan. Karena Abu Hanifah mendasarkan mazhabnya dengan dasar pada Al-Qur’an Hadits, Al-Ijma’, Al-Qiyas dan Al-Istihsan. Karwna itu sangatkuas bidang beliau untuk berijtihad dan membuat kesimpulan bagi hukum-hukum menurut kehendak atau kebutuhan masyarakat pada masa itu, tetapi dengan dasar tidak menyimpang hal-hal pokok dan peradaban atau peraturan undang-undang Islam.

Imam Abu Hanifah berkata, ‘Aku memberikan hukum berbasarkan Al-Qur’an apabila tidak sya jumpai dalam Al-Qur’an, maka aku gunakan hadits Rasulullah dan jika tidak ada dalam kedua-duanya (Al-Qur’an dan Al-HaditS) aku dasarkan pada pendapat siapa saja dari para sahabat dan aku tinggalakan apa saja yang tidak kusukai dan tetap berpegang kepada satu pendapat saja”.

Dibagian akhir kata-kata Abu Hanifah diatas dapat disimpulkan bagaimana ia menggunakan ijtihad dan pikiran. Dan bagaimana pula penggunaan pikiran untuk dapat membuat perbandingan diantara pendapat-pendapatnya dan memilih salah satunya.

Selanjutnya ia berkata : “Jika ada Hadits, Rasul, kamu )gunakan) tetapi pendapat sahabat -sahabat kami berbeda dan pendapat-pendapatnya tabi’in kami bahas bersama atau bertukar pikiran dengan mereka.

kata-kata Abu Hanifah tersebut diatas sebagai keterangan tentang cara beliau berijtihad atau menggunakan pikiran dengan cara yang luas karena beliau berpendapat bahwa pendapat-pendapat atau kata-kata dari pengikut-pengikut (tabi’in) tidak pasti menurutnya. manakala tidak mendapat nas-nas apakah  dari Al-Qur’an atau Hadits dan juga tidak menemukan pendapat dari sahabat-sahabt ia berpendapat bahwa ia harus  menyingkronkan kan dengan pendapat atau pemikiran yang mereka berpendapat dan beliau berkata : Aku nerijtihad sebagaimana mereka berijtihad. Dan berpegang kepada kebenaran yang didapat sebagaimana mereka juga.

Karena itulah pernah menyebutnya nama beberapa orang tabi’in dan berkata tentang mereka ” Mereka ialahah satu kaum yang berijtihad maka aku pun berijtihad seperti mereka berijtihad”. Ia bwerkata lagi ” Pendapat yang datang dari pada tabi’in laki-laki dan kami pun laki-laki pula”.

Seperti telah kita sebutkan bahwa Abu Hanifah adalah seorang Rios pada golongan ahli-ahli pikir. Berdasarkan kepada pendapat ini, ada di antara orang banak yang melontarkan tuduhan bahwa beliau banyak menggunakan akal dan ijtihad dengan metode meninggalkan hadits-hadits Nabi. Tuduhan itu mendatangkan beberapakesulitan kepada beliau. Oleh karena itu beliau bekerja keras untuk menyanggah dan menjawab tuduhan-tuduhan sehingga beliau pernah berkata ” Aku meraasa heran dengan tuduhan-tuduhan yang mengatakan bahwa aku memberikan fatwa-fatwa dalam hubungan  dengan  berdasarkan pikiran sedangkan aku tidak memberikan fatwa-fatwa dalam hukum menlainkan berdasarkan padaQuran dan Hadits Nabi dan pendapat-pendapat sahabat”. Beliau menegaskan lagi katanya : ‘aPAKAH BOLEH MENGGUNAKAN QIYAS JIKA ADA NAS?” bELIAU MENAMBAHKAN LAGI : “kAMI MAZHAB aBU hANIFAH TIDAK MENGGUNAKAN QIYAS MELAINKAN DI WAKTU-WAKTU YANG TERLAMPAU SEMPIT.

Jika kami tidak menemikan dalil-dalil dari Al-Qur’an atau hadist, kami mengqiyaskan hukum yan tidak ada hubungannya kepada arti-arti atau tujuan – tujuan percakapan. Beliau berkta lagi : ” Kami menggunakan Quran  kemudian membahas seterusnya pendapat-pedapat para sahabat. Kami mendahulukan pendapat yang bermufakat. Jika mereka berselisih, kami qiyaskan hukum-hukum yang lain dengan kedua masalah tersebut sehingga terang dan jelas pengertiannya.

Abu Hanifah banyak menggunaan hadist-hadist muwatir, masyhur dan hadist-hadist Ahad. Jika beliau tidak menerima atau memakai hadist yang diriwayatkan oleh seorang rawi saja bukanlah berarti beliau mengingkari adanya hadits itu dari Rasulullah

x
Advertisements

Leave a Reply

Your email address will not be published.