Bentuk-Bentuk Perkembangan Anak Usia Dini

Posted on

Bentuk-Bentuk Perkembangan Anak Usia Dini

Pendidikan Anak Usia Dini
Pengertian pendidikan adalah suatu
bimbingan atau peran secara sadar oleh si pendidik terhadap perkembangan jasmani dan rohani si terdidik menuju terbentuknya kepribadian yang utama. Anak usia dini adalah kelompok manusia yang berusia 0-6 tahun. (Marimba: Pendidikan Anak Usia Dini (TT): 19) Pengertian pendidikan anak usia
dini sebagaimana yang termaktub dalam
Undang-undang Sisdiknas tahun 2003 pasal 1 ayat 14 menyatakan bahwa:
Pendidikan anak usia dini adalah suatu 195| At-Ta’dib: Jurnal Ilmiah Pendidikan Agama Islam Volume 10, No. 2, Desember 2018 upaya pembinaan yang ditujukan kepada anak sejak lahir sampai dengan usia enam tahun yang dilakukan melalui pemberian rangsangan pendidikan untuk membantu pertumbuhan dan perkembangan jasmani
dan rohani agar anak memiliki kesiapan
dalam memasuki pendidikan lebih lanjut. Batasan lain mengenai usia dini pada anak berdasarkan psikologi perkembangan yaitu antara usia 0 – 8 tahun. Disamping istilah pendidikan anak usia dini terdapat pula terminologi pengembangan anak usia dini yaitu upaya yang dilakukan oleh masyarakat dan atau pemerintah untuk membantu anak usia dini dalam mengembangkan potensinya secara holistik baik aspek pendidikan, gizi maupun kesehatan. (Direktorat PADU: 2002: 3)


Perkembangan Anak Usia Dini
Banyak pendapat dan gagasan
tentang perkembangan anak usia dini, Montessori yakin bahwa pendidikan dimulai sejak bayi lahir. Bayipun harus dikenalkan pada orang-orang di sekitarnya, suara-suara, benda-benda, diajak bercanda dan bercakap-cakap agar mereka berkembang menjadi anak yang normal dan sehat. Metode pembelajaran yang sesuai dengan tahun-tahun kelahiran sampai usia enam tahun biasanya menentukan kepribadian anak setelah dewasa. Tentu juga dipengaruhi seberapa baik dan sehat orang tua berperilaku dan bersikap terhadap anak-anak usia dini. Karena perkembangan mental usia-usia awal berlangsung cepat, inilah periode yang tidak boleh disepelekan. Pada tahun-tahun awal ini anak-anak memiliki periode-periode sensitive atau kepekaan untuk mempelajari atau berlatih sesuatu. Sebagian besar anak-anak berkembang pada asa yang berbeda dan membutuhkan lingkungan yang dapat membuka jalan pikiran mereka. Menurut Montessori, paling tidak ada beberapa tahap perkembangan sebagai berikut:

1. Sejak lahir sampai usia 3 tahun, anak memiliki kepekaan sensoris dan daya pikir yang sudah mulai dapat “menyerap” pengalaman- pengalaman melalui sensorinya.


2.
Usia setengah tahun sampai kira- kira tiga tahun, mulai memiliki kepekaan bahasa dan sangat tepat untuk mengembangkan bahasanya (berbicara, bercakap-cakap)

.
3.
Masa usia 2 – 4 tahun, gerakan- gerakan otot mulai dapat dikoordinasikan dengan baik, untuk berjalan maupun untuk banyak bergerak yang semi rutin dan yang rutin, berminat pada benda-benda kecil, dan mulai menyadari adanya urutan waktu (pagi, siang, sore, malam).

 

Pendapat Mantessori ini mendapat dukungan dari tokoh pendidkan Taman Siswa, Ki hadjar Dewantara, sangat
meyakini bahwa suasana pendidikan
yang baik dan tepat adalah dalam suasana kekeluargaan dan dengan prinsip asih (mengasihi), asah (memahirkan), asuh (membimbing). Anak bertumbuh kembang dengan baik kalau mendapatkan perlakuan kasih sayang, pengasuhan yang penuh pengertian dan dalam situasi yang damai dan harmoni. Ki Hadjar Dewantara menganjurkan agar dalam pendidikan, anak memperoleh pendidikan untuk mencerdaskan (mengembangkan) pikiran, pendidikan untuk mencerdaskan hati (kepekaan hati nurani), dan pendidikan yang meningkatkan keterampilan. Tokoh pendidikan ini sangat menekankan bahwa untuk usia dini bahkan juga untuk mereka yang dewasa, kegiatan pembelajaran dan pendidikan itu bagaikan kegiatan-kegiatan yang disengaja namun sekaligus alamiah seperti bermain di “taman”. Bagaikan keluarga yang sedang mengasuh dan membimbing anak-anak secara alamiah sesuai dengan kodrat anak di sebuah taman. Anak-anak yang mengalami
suasana kekeluargaan yang hangat, akrab,
damai, baik di rumah maupun di sekolah, serta mendapatkan bimbingan dengan penuh kasih sayang, pelatihan kebiasaan secara alami, akan berkembang menjadi anak yang bahagia dan sehat

Bentuk-Bentuk Perkembanagan Anak Usia Dini


1.
Perkembangan Fisik. Dari bidang postur tubuh anak 3 tahun biasanya lebih langsing dan panjang dibandingkan tahun sebelumnya. Selain itu juga terjadi perkembangan pesat pada sistem syaraf otot-otot dan kerangka tubuh.
Bagi anak yang kurang gizi menurut hasil
penelitian yang penah dilakukan ternyata perkembangan tulangnya terhaambat dan memilki lingkaran epala yang lebih kecil dibandingna ukuran normal. Terdapat peristiwa dan kejadian yang berpengaruh terhadap kesehatan fisk anak. Peristiwa itu antara lain: pindah rumah, pergantian pekerjaan ayah, ibu yang mulai bekerja, orang tua yang sering tidak cocok dengan mertua mereka, kematian teman dekat atau orang-orang yang masih ada hubungan saudara dengan sianak atua orang tuanya, perceraian orang tua dan lain-lain


2.
Perkembangan Prilaku Dari segi perkembangan motorik anak pada usia 4 tahum mampu melompat dengan satu kaki, mampu menagkap bola, dan mampu berjalan satu garis. Dari segi perkembangan prilaku adaptasi anak mampu membangun jembatan dari lima kubus, mampu menggambar orang. Kemampuan dari dari berbhasa anaka mampu mengunakan kata sambung, perbedaan dengan bahasa orang dewasa terletak pada gayanya dan bukan dari
struktur kalimat. Prilaku kepribadian anak
mampu membasuh dan menyka wajah, dapat diperinrah dan mampu bermain 197| At-Ta’dib: Jurnal Ilmiah Pendidikan Agama Islam Volume 10, No. 2, Desember 2018
bersama.


3.
Perkembangan Kognitif Ketiak anak memasuki usia 3 tahun, terjadi perkembangan kognitifyang tak terduga. Semakin dipelajari, semakin disadari bahwa anak mengalami perkembangan kognitif yang pesat hanya dalam wktu relatif singkat. Faktor-faktor yang mempengaruhi perkembangan keognitif antara lain beruapa perkembangan sosial-emosional inteaksi orang tua-anak.


4.
Perkembangan Kepribadian Anak yang berusia sekitar 3-4 tahun berada pada masa Oedipus complek, yakni sindrom yang ditandai oleh keinginan anak untuk menggantiakn orang tua yang berjenis kelamin sama untuk memperoleh perhatian dan kasih sayang dari jenis kelamin berbeda. melalui proses identifikasi, anak akan memahami perbedaan jenis kelamin beserta peran yang menyertainya. Pembentukan kepribadian pada tahap ini dipengaruhi oleh lingkungan sosial dan peran orang tua.


5.
Pembelajaran Pada Taman Kanak-Kanak Anak taman kanak-kanak termasuk dalam kelompok umum prasekolah. Pada umur 2-4 tahun anak ingin bermain, melakukan latihan berkelompok, melakukan penjelajahan, bertanya, menirukan, dan menciptakan sesuatu. Pada masa ini anak mengalami kemajuan pesat dalam keterampilan menolong
dirinya sendiri dan dalam keterampilan
bermain. Seluruh sistem geraknya sudah lentur, sering mengulangi perbuatan yang diminatinya dan melakukan secara wajarnya tanpa rasa malu. Di taman kanak-kanak, anak juga mengalami kemajuan pesat dalam penguasaan bahasa, terutama dalam kosa kata. Hal yang menarik, anak-anak juga ingin mandiri dan tak banyak lagi mau tergantung pada orang lain.( Wiwin Dinar Pratisti, 2008:83-86) Sehubungan dengan ciri-ciri di atas maka tugas perkembangan yang diemban anak-anak adalah:
a.
Belajar keterampilan fisik yang diperlukan untuk bermain.
b.
Membangun sikap yang sehat terhadap diri sendiri
c.
Belajar menyesuaikan diri dengan teman sebaya
d.
Mengembangkan peran sosial sebagai lelaki atau perempuan
e.
Mengembangkan pengertian- pengertian yang diperlukan dalam hidup sehari-hari
f.
Mengembangkan hati nurani, penghayatan moral dan sopan santun
g.
Mengembangkan keterampilan dasar untuk membaca, menulis, matematika dan berhitung
h.
Mengembangkan diri untuk mencapai kemerdekaan diri.

Dengan adanya tugas perkembangan yang diemban anak-anak, diperlukan adanya pembelajaran yang menarik dan menyenangkan bagi anak-anak yang selalu “dibungkus” dengan permainan, suasana riang, enteng, bernyanyi dan menari. Bukan pendekatan pembelajaran yang penuh dengan tugas-tugas berat, apalagi dengan tingkat pengetahuan, keterampilan 198Aidil Saputra: Pendidikan Anak pada Usia Dini dan pembiasaan yang tidak sederhana lagi seperti paksaan untuk membaca,menulis, berhitung dengan segala pekerjaan rumahnya yang melebihi kemampuan anak-anak.

 

x
Advertisements

Leave a Reply

Your email address will not be published.