Faktor yang mempengaruhi kesenjangan perilaku peserta didik

Posted on

PERILAKU PESERTA DIDIK DAN PENGETAHUAN
PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DALAM PENERAPAN
PENDIDIKAN KARAKTER

Perilaku Peserta Didik
Perilaku adalah respon atau reaksi seseorang terhadap stimulus dari luar. Oleh karena perilaku ini terjadi melalui proses adanya interaksi anatar individu dengan lingkungannya sebagai keadaan jiwa untuk berpendapat, berfikir, dan
bersikap yang merupakan refleksi dari berbagai aspek baik fisik maupun non fisik. Perilaku juga dapat diartikan sebagai suatu reaksi psikis seseorang yang digolongkan dalam dua golongan yaitu bentuk pasif (tanpa tindakan nyata) dan bentuk aktif (tindakan konkrit) sedangkan dalam pengertaian umum perilaku adalah segala perbuatan yang dilakukan oleh mahluk hidup.


Menurut Scheneider (dalam Syamsu Yusuf 2003:14) mengartikan penyesuaian diri sebagai suatu proses respon individu baik yang bersifat behavioral maupun mental dalam upaya mengatasi kebutuhan-kebutuhan dari dalam diri, ketegangan emosional, frustasi dan konflik, serta memelihara keseimbangan antara pemenuhan kebutuhan tersebut dengan tuntuntan (norma) lingkungan. Dan dapat dilihat bahwa hampir semua para ahli meninjau perkembangan jiwa dari berbagai sudut, beranggapan bahwa masa remaja merupakan masa penyempurnaan dari tahap-tahap perkembangan sebelumnya. Walaupun demikian beberapa penulis Indonesia tetap berpendapat bahwa remaja adalah masa transisi dari masa anak-anak kedewasa, yang ditandai dengan perkembangan biologis, psikologis, modal, dan agama. Periaku nakal siswa adalah tingkah laku individu yang bertentangan dengan pendapat umum yang dianggap sebagai akseptual yang baik oleh suatu lingkungan atau hukum yang berlaku di suatu masyarakat.


Menurut terapi Behavioral yang dikembangkan oleh Wolpe (dalam Willis 2011: 69) perilaku nakal bersumber dari hasil belajar dari lingkungan yang dipandang sebagai respon terhadap stimulasi atau rangsangan eksternal maupun
internal. Dengan demikian pada dasarnya dari teori behavioral adalah bahwa perilaku dapat dipahami sebagai hasil kombinasi antara belajar waktu lalu dalam hubungannya dengan keadaan yang serupa, keadaan motivasional sekarang dan efeknya terhadap lingkungan, dan perbedaan-perbedaan biologis baik secara genetic atau karena gangguan fisiologik. Sedangkan menurut Oudum (dalam Sulwati, 2007: 15) mengemukakan bahwa perilaku merupakan tindakan yang tegas dari suatu organisme segala macam pengalaman dan interaksi manusia dengan lingkungannya yang terwujud dalam pengetahuan, sikap, dan tindakan. Faktor pendidikan, lingkungan, dan masyarakat, menurut Al-Ghazali, merupakan faktor yang paling kuat dalam mempengaruhi sifat anak (Al-Jumbulati dan At-Tuwaanisi, 2002: 147). Istilah karakter dihubungkan dengan istilah etika, akhlak, atau nilai dan semua itu berkaitan dengan moral yang bernilai positif.

Karakter juga sering diasosiasikan dengan istilah yang disebut temperamen yang lebih memberii penekanan pada definisi psikososial yang dihubungkan dengan pendidikan dan konteks lingkungan. Masa-masa ini juga menjadi waktu yang tepat bagi anak-anak dalam pembentukan karakter. Anak akan menerima apa saja dan cenderung kepada apa saja (Al-Jumbulati dan At-Tuwaanisi, 2002: 147). Dengan demikian dapat dikatakan bahwa proses perkembangan perilaku pada seseorang dipengaruhi oleh banyak faktor yang dimana orang yang tersebut bersangkutan tumbuh berkembang dalam bawaan sejak lahir dan lingkungan. Faktor bawaan bisa dikatakan berada di luar jangkauan masyarakat dan individu untuk mempengaruhinya. Sedangkan faktor lingkungan merupakan faktor yang berada pada jangkauan masyarakat dan individu.


Menurut Ibnu Qayyim, tanggung jawab terhadap anak, terutama dalam hal pendidikannya, berada dipundak orang tua dan pendidik (murabbi), apalagi jika anak tersebut masih berada pada awal pertumbuhan. Pada awal pertumbuhannya, anak kecil sangat membutuhkan pembimbing yang selalu mengarahkan akhlak dan perilakunya karena anak belum mampu membina dan menata akhlaknya sendiri. Anak sangat membutuhkan Pembina dan qudwah (teladan) yang bisa dijadikan panutan baginya (Al-Hijazy, 2001:80). Jadi, keluarga sebagai pendidikan pertama yang diperoleh anak dalam terbentuknya karakter pada anak-anak juga sangat berpengaruh besar. Peran orang tua sebagai teladan dalam mengajarkan sikap jujur, sopan santun, akhlak mulia, dan hal positif lainnya merupakan pondasi kuat bagi anak ketika berada di luar lingkungan keluarga. Orang tua juga harus bisa mengaplikasikan dalam kehidupan sehari-hari, sehingga akan terbentuk karakter yang baik pada anak bila keluarga bisa menciptakan suasana yang harmonis. Hal tersebut dapat dilihat dari tanggung jawab pokok dari orangtua terhadap anaknya adalah: (1) menerima kehadiran anak sebagai amanah dari Allah Swt; (2) mendidik anak dengan cara yang baik; (3) memberiikan conta dan kasih sayang kepada anak; (4) bersikap dermawan 12 kepada anak; (5) tidak menbeda-bedakan antara anak laki-laki dan anak perempuan dalam hal kasih sayang dan pemberian harta; (6) mewaspadai segala sesuatu yang mungkin memengaruhi pembentukan dan pembinaan anak; (7) tidak menyumpahi anak; dan (8) menanamkan akhlak mulia kepada anak (Marzuki, 2009).

 

Faktor yang mempengaruhi kesenjangan perilaku peserta didik
Ada beberapa faktor yang mempengaruhi perilaku nakal peserta didik baik faktor yang berasal berasal dari dalam diri peserta didik itu sendiri maupun dari lingkungan keluarga itu sendiri antara lain sebagai berikut:

 Orang Tua
Mengapa orang tua sulit mengajarkan perilaku yang positif dan bertanggung jawab terhadap apa yang dilakukan oleh anak. Keluarga merupakan lingkungan terkecil dalam masyarakat tempat seseorang dilahirkan dan dibesarkan. Menurut Kartini (2005: 17) mengemukakan bahwa “kondisi lingkungan keluarga sangat menentukan keberhasilan masa perkembangan seseorang diantaranya adalah adanya hubungan yang harmonis di antara sesama anggota keluarga, tempat terjadinya peralatan belajar dalam pergaulan. Adanya perhatian besar dari orang tua terhadap perkembangan proses belajar dan pendidikan anak-anaknya”. Oleh karena itu orang hendaknya menyadari bahwa pendidikan dimulai dari keluarga. Sedangkan sekolah merupakan pendidikan lanjutan, peralihan pendidikan informal ke lembaga-lembaga formal memerlukan kerjasama yang baik antara orang tua dan guru sebagai pendidik dalam usaha meningkatkan nilai dan norma yang berlaku di lingkungan sekolah maupun lingkungan masyarakat;

 Lingkungan
Kondisi lingkungan yang sangat berpengaruh terhadap tingkah laku anak. Karena mengatur atau mengubah situasi dan kondisi yang akan dilakukan. Keluarga merupakan ligkungan pendidikan yang pertama peserta didik dalam membentuk kepribadian daripada mendidik pengetahuan. Dan lingkungan kedua adalah sekolah merupakan lingkungan yang sangat berperan dalam membina dan memberiikan kemampuan dan bekal dikemudian hari;


Teman sebaya
Teman sebaya juga sangat berpengaruh penting terhadap perilaku peserta didik, karena teman merupakan pemberian sumber informasi dunia diluar selain orang tua atau keluarga. Berdasarkan penjelasan diatas maka dapat disimpulkan bahwa orang tua sebagai pendidik utama, yang setiap hari bergaul dengan anak perlu mengetahui sifat dan karakter anak masing-masing. Maka orang tua sangat berperan penting dalam pembentukan perilaku baik. Samping itu lingkungan dan teman juga berperang penting dalam membentuk karakter dan tingkah laku peserta didik, maka ketiga faktor ini saling membutuhkan dan melengkapi dalam mendidik peserta didik untuk berperilaku lebih baik.

x
Advertisements

Leave a Reply

Your email address will not be published.