guru hebat

Posted on

guru hebat menginspirasi

Benarkah guru tidak mampu menulis atau tidak terbiasa menulis? Jawabannya pasti beraneka alasan. Namun senyatanya, memang sebagian besar guru tidak terbiasa menulis. Banyak di antara para guru yang kesulitan untuk menulis di media massa, jurnal, buku atau yang lainnya. Bahkan untuk membuat karya tulis yang diajukan dalam pengurusan kenaikan pangkat saja, banyak yang belum bisa. Ironisnya lagi, ketika dihadapkan pada tugas utama untuk membuat Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) juga lebih cepat dan mudah dengan copy paste. Kondisi seperti ini tentu merupakan sesuatu yang tidak elok bagi kompetensi sebuah profesi. Padahal, guru harus membuat karya tulis sebagai salah satu unsur pengembangan profesi dan mempermudah kenaikan pangkat dan golongan (guru pns atau guru inpasing).
Terlepas dari sebuah bentuk karya tulis yang dibuat, gerakan literasi bagi seorang guru intinya menjadi penting di mana terdapat makna dan hakikat dari menulis. Banyak manfaat dari menulis dan menjadi penulis, ketika seorang guru menulis maka saat itu sedang melakukan rangkaian proses yang setidaknya terdiri dari tiga hal yaitu membaca, merenung, dan menulis. Di mana ketiga rangkaian itu ialah keterampilan dan karakter yang melekat pada diri si penulis. Pertama, berkaitan kemampuan membaca artinya guru selain membaca buku juga akan membaca pengalaman, membaca fenomena yang terjadi dalam kehidupan. Semakin sering keterampilan membaca diasah, semakin banyak bahan yang dapat ditulis.
Kedua, menyangkut kemampuan merenung memikirkan sesuatu. Dalam bahasa psikologi kapasitas itu disebut deep thinking, kesanggupan untuk berpikir mendalam. Apa pun yang dibaca diamati dan dialami selalu dipikirkan secara mendalam, mengapa ini terjadi dan pelajaran apa yang dapat dipetik dari peristiwa itu. Perbedaan kemampuan guru dalam berpikir mendalam itu sangat menentukan seberapa banyak kearifan dan berpikir kritis yang dapat mereka tunjukkan dalam kehidupan pribadi, berkeluarga, maupun profesional mereka. Dan Ketiga, adalah kebiasaan menulis (habits). Dalam konteks kebiasaan menulis sesuatu yang pada awalnya dirasakan sulit, bila sudah biasa dikerjakan akan menjadi mudah.
Dan guru yang rajin menulis akan menjadi sebuah karakter, dan berkaitan dengan karakter guru William Arthur Ward menyampaikan bahwa “guru biasa hanya memberitahu, guru baik menjelaskan, guru yang sangat baik menunjukkan, dan guru hebat menginspirasi.”. Hemat penulis menyakini kalau rekan-rekan guru yang terbiasa menulis baik di sebuah forum media massa cetak, opini atau rubrik e-news lainnya. Terlebih diberikan wahana untuk menulis artikel-artikel, PTK, Jurnal atau buku-buku pembelajaran di sekolahnya maka disadari atau tidak sudah menjadi guru yang hebat karena diyakini akan menginspirasi murid-muridnya di sekolah atau masyarakat. Kemudian guru yang rajin atau terampil menulis adalah guru yang istimewa, karena tidak setiap guru mampu melakukannya.
 
x
Advertisements

Leave a Reply

Your email address will not be published.