INILAH PERAN GURU DALAM MENGATASI ANAK YANG LAMBAN DALAM BELAJAR

Posted on

PERAN GURU DALAM MENGATASI ANAK YANG LAMBAN DALAM BELAJAR

Pada dasarnya anak lamban belajar memiliki kelainan pada mentalnya atau bisa dibilang mengalami gangguan mental ringan. Anak lamban belajar merupakan salah satu dari anak berkebutuhan khusus atau biasa disebut dengan slow learner. Sebagian besar kelainan yang dialami oleh anak lamban belajar disebabkan sejak dalam kandungan, bisa disebabkan pada saat ibu mengandung mengalami kekurangan gizi atau menderita suatu penyakit.

Kelainan yang dialami oleh anak lamban belajar tentunya mengalami berbagai hambatan dalam menjalani hidupnya. Karena banyak orang yang tidak mengetahui anak lamban belajar, sebagian besar masyarakat menganggap anak lamban belajar ini merupakan anak yang malas dan bodoh. Fisik anak lamban belajar sama seperti anak normal pada umumnya akan tetapi terjadi kelambanan dalam proses balajar.

Anak lamban belajar sebenarnya menginginkan serta berhak atas kehidupan yang wajar seperti anak pada umumnya, dapat belajar dikelas tanpa harus dikucilkan dan di cap sebagai anak pemalas dan bodoh. Anak yang mengalami kelainan seperti lamban belajar juga merupakan bagian dari Warga Negara Indonesia berhak atas untuk hidup yang layak seperti warga Negara pada umumya. Akan tetapi seperti keadaan yang ada bahwa anak berkebutuhan khusus seperti anak lamban belajar dianggap sebagai beban bagi mereka yang normal. Pemerintah dan masyarakat mempunyai tanggung jawab untuk berupaya membantu anak yang mengalami kelainan seperti anak lamban belajar.

Oleh sebab itu pemerintah telah mengadakan sekolah yang dapat memenuhi kebutuhan anak berkebutuhan khusus untuk dapat belajar bersama-sama dengan anak normal yaitu sekolah inklusi. Seperti SMP Inklusi TPA Jember yang resmi berdiri pada tahun 2007 yang didirikan oleh bapak Bambang Wagiman yang sekaligus menjadi kepala sekolah di sekolah ini. SMP Inklusi TPA Jember merupakan SMP Inklusi satu-satunya di kabupaten Jember. Sekolah yang didirikan oleh bapak Bambang Wagiman ini juga menerima anak yang tidak mampu. Dalam hal ini maka diperlukan peran guru terkait dengan anak lamban belajar yang sangat membutuhkan pertolongan dalam proses belajar mengajar untuk mengembalikan fungsi sosial anak lamban belajar. Tujuan dari penelitian ini adalah mendeskripsikan bagaimana peran guru dalam menangani anak lamban belajar di sekolah inklusi.

Metode penelitian ini adalah metode kualitatif dan jenis penelitiannya adalah studi deskriptif. Penentuan informan dalam penelitian ini menggunakan metode purposive sampling dan menemukan 8 informan, yaitu 5 sebagai informan pokok, 3 sebagai informan tambahan. Pengumpulan data yang dilakukan dalam penelitian ini meliputi wawancara mendalam (indept interview), observasi partisipan pasif, dan ix dokumentasi. Dalam menguji keabsahan data, penelitian ini menggunakan teknik triangulasi.

Lokasi penelitian di SMP Inklusi TPA Jalan Jawa 57, kecamatan Sumbersari, kabupaten Jember. Penelitian ini dilakukan mulai 22 November 2011. Penulis menganalisis mengenai peran guru yang harus dilakukan untuk mengembangkan anak lamban belajar dalam proses belajar mengajar. Beberapa peran yang harus dilakukan oleh guru, yaitu Peran Demontrator, Peran Motivator, Peran Mediator, Peran Fasilitator, Peran Evaluator. Hasil penelitian menunjukkan bahwa,

1). Peran demonstrator, guru menjelaskan pelajaran agar lebih mempermudah pemahaman anak lamban belajar dengan cara menunjukkan lansung pada benda nyatanya. Jadi guru dalam hal ini memiliki kemampuan untuk menunjukkan dan memperagakan apa yang akan diajarkan kepada anak lamban belajar.

2). Peran motivator, guru selalu memberikan dorongan kepada anak untuk mengembalikan kepercayaan anak, bahwa anak mampu melakukan segala sesuatu. Proses pengembalian fungsi sosial anak lamban belajar memang membutuhkan waktu sehingga diperlukan adanya dorongan atau motivasi agar anak memiliki kepercayaan diri, jika anak sudah memiliki kepercayaan maka akan lebih mudah untuk melakukan proses belajar mengajar.

3). Peran mediator, guru menjadi perantara untuk menghubungkan antara kebutuhan, seperti menghubungkan anak berkebutuhan khusus lamban belajar dengan ilmu pengetahuan. Dalam hal ini guru berperan sebagai seorang penghubung antara kebutuhan atau kemampuan yang dimiliki oleh anak.

4). Peran fasilitator, guru menfasilitasi berbagai kebutuhan baik pengembangan ilmu pengetahuan maupun barbagai kebutuhan pengembangan kemampuan seperti keterampilan. Guru berusaha menfasilitasi berbagai kebutuhan dalam proses balajar mengajar baik kebutuhan yang bersifat materi ataupun yang bersifat dengan kejiwaan.

5). Peran evaluator, dimana guru selalu mengevaluasi berbagai perkembangan anak. Evaluasi yang dilakukan oleh guru dilakukan setiap saat, minggu dan bulan. Kesimpulan yang dapat diambil dalam penelitian ini bahwa kelima peran ini memiliki suatu manfaat yang besar dalam pengembalian fungsi sosial anak lamban belajar nantiya ketika kembali ke masyarakat.

Sedangkan kendala yang dihadapi dalam peran yang dilakukan oleh guru ialah anak lamban belajar yang kurang fokus sehingga guru mengalami kesulitan di mana pelajaran harus tetap berlangsung dan yang kedua ialah orang tua tidak dapat bekerjasama dengan guru terkait dalam proses pengembangan anak lamban belajar, orang tua cenderung tidak peduli. Oleh karena itu dalam penelitian ini disarankan agar guru perlu menambah jam pelajaran bagi anak lamban belajar supaya tidak tertinggal pelajaran dan perlu diadakan suatu fasilitas kunjungan guru (pihak sekolah) kerumah anak lamban belajar agar terjalin suatu komunikasi dan hubungan yang terbuka dan baik antara guru dengan wali murid, dan agar evaluasi yang dilakukan setiap hari dapat disampaikan secara rutin dan langsung kepada orang tua

x
Advertisements

Leave a Reply

Your email address will not be published.