Pestisida Alami Untuk Tanaman Kebun

Posted on

Pemasyarakatan Penggunaan Pestisida Nabati Dalam Mendukung Perlindungan Tanaman Perkebunan

Masa lalu, sekarang dan masa yang akan datang OPT akan menjadi kendala dalam budidaya tanaman perkebunan. Perlindungan tanaman perkebunan akan selalu menjadi faktor penting dalam kegiatan usaha budidaya tanaman perkebunan. Pengendalian OPT dengan pestisida masih menjadi primadona dalam kegiatan perlindungan tanaman oleh petani. Pestisida kimiawi atau sintetis di lingkungan masyarakat pekebun kopi dan kakao masih sering dipakai. Dampak penggunaan pestisida sintetis yang secara masif selain akan menimbulkan resistensi dan resurgensi OPT, juga berdampak pada keamanan pangan. Salah satu contoh yaitu penolakan atau notifikasi biji kopi asal Indonesia tujuan Jepang karena mengandung residu isoprocarb pada tahun 2021.

Sesuai dengan peraturan pemerintah, kebijakan untuk menerapkan sistem Pengendalian Hama Terpadu (PHT) menekankan pendekatan ekologi dengan memprioritaskan pengendalian yang aman terhadap lingkungan. Pemanfaatan bahan alami seperti dari tumbuhan mempunyai peluang untuk dikembangkan dan dimasyarakatkan kepada petani. Alasan penggunaan bahan dari tumbuhan adalah karena tidak mencemari lingkungan dan dapat dipadukan dengan konsep PHT.

Penggunaan pestisida nabati oleh petani di perkebunan kopi dan kakao hasil bantuan dari Direktorat Perlindungan Perkebunan menjadi angin segar bagi komoditas perkebunan yang diproduksi secara organik. Kehadiran bantuan pestisida nabati disambut gembira oleh petani yang sangat memperhatikan kesehatan dan kelestarian lingkungan serta tidak meninggalkan residu pada produk yang dihasilkan.

Pemanfaatan bahan dari tumbuhan sebagai pestisida nabati pada masa sekarang sudah berkembang. Pengembangan dan produksi pestisida nabati dikemas dan diproduksi secara modern. Salah satunya dengan metode ekstraksi dan penyulingan. Kedua metode tersebut lebih modern dan menghasilkan metabolit sekunder atau kandungan bahan kimia dari tumbuhan yang akan dijadikan bahan pestisida nabati secara optimal.

Beberapa produk pestisida nabati yang telah berhasil diformulasi dan memenuhi standar uji mutu yaitu PESNAB 4 EC dan PESTOR 20,02 EC. Fungisida nabati PESNAB 4 EC adalah fungisida nabati terbuat dari bahan alami (metabolit sekunder) bawang putih dengan kandungan bahan aktif Diallyl sulfide 0,018 g/l, Allyl Methyl disulfide 0,109 g/l, Dially disulfide 1,014 g/, Ally methyl trisulfide 0,101 g/l, Diallyl trisulfide 2,859 g/l. Diformulasikan dalam bentuk emulsi yang akan berfungsi menghambat perkembangan uredospora patogen penyebab karat daun kopi (Hemileia vastatrix) dan spora Ceratobasidium theobromae patogen penyebab Penyakit Pembuluh Kayu Vascular streak dieback (VSD). Insektisida nabati PESTOR 20,02 ECadalah insektisida nabati terbuat dari bahan alami (metabolit tanaman) daun cengkeh dan biji nimba dengan kandungan bahan aktif eugenol 20 g/l dan azadirachtin 0,02 g/l. Bahan aktif ini bersifat kontak untuk mengendalikan Penggerek Buah Kopi (Hypothenemus hampei), Penggerek Buah Kakao (Conopomorpha cramerella).

Penggunaan pestisida nabati PESNAB dan PESTOR pada tahun 2021 sudah dimanfaatkan oleh petani untuk pengendalian OPT perkebunan seperti hama H. hampei yang menyerang buah kopi, C. cramerella yang menyerang buah kakao dan penyakit H. vastatrix yang menyebabkan karat pada daun kopi, C. theobromae yang menyebabkan klorosis pada daun kakao. Menurut beberapa petani, pestisida nabati PESNAB dan PESTOR mampu menekan perkembangan OPT dan pertumbuhan tanaman menjadi lebih bagus. Sedangkan hasil evaluasi bahan pengendali, yaitu bahan aktif azadirachtin dan eugenol mampu menurunkan intensitas serangan C. cramerella (Bakoh et al., 2022). Aplikasi PESTOR 20.02 EC di Kelompok Tani KWT AYIK BALING Desa Padang Gumay, Kecamatan Gumay Ulu, Kabupaten Lahat, Provinsi Sumatera Selatan dapat menurunkan tingkat serangan penggerek buah kopi (H. hampei) sebesar 77,35% dan Aplikasi PESNAB 4 EC di Kelompok Tani SUBUR MAKMUR, Desa Datar Lebar, Kecamatan Semende Darat Ulu, Kabupaten Muara Enim, Provinsi Sumatera Selatan dapat menurunkan tingkat serangan karat daun kopi (H. vastatrix) sebesar 58,19%.

Keanekaragaman hayati di Indonesia, terutama tumbuhan yang berpotensi sebagai penghasil pestisida nabati sangat mendukung prospek penggunaan pestisida nabati. Selain itu, dalam perdagangan pasar bebas, persyaratan keamanan pangan terutama dari produk-produk perkebunan bebas dari residu bahan kimia. Oleh karena itu, pestisida nabati yang merupakan salah satu pengendalian hayati berperan penting dalam memajukan pertanian yang mengandalkan teknologi alami (pertanian organik) dan mengamankan produk ekspor hasil pertanian (Margino dan Mangoendihardjo, 2002).

Beberapa manfaat yang didapatkan dari pestisida nabati serta prospeknya, maka penggunaan pestisida nabati tersebut tiba saatnya untuk dimasyarakatkan. Dalam kegiatan pengendalian hama, ada 3 elemen masyarakat yang secara fungsional dapat dibedakan, yaitu pakar yang mengembangkan teknologi, pengguna teknologi (petani) dan pemerintah dalam mengambil kebijakan (Wiranti, 2005). Pemerintah dalam hal ini Pestisida nabati bantuan dari Direktorat Perlindungan Perkebunan selama tahun anggaran 2021 dan 2022 sudah memberikan bantuan pestisida nabati kepada petani hampir di seluruh provinsi sentral tanaman perkebunan, oleh karena itu perlu dilakukan sosialisasi secara masif. Permasyarakatan pestisida nabati dilakukan diantaranya melalui peningkatan kemampuan sumber daya manusia (petugas lapangan, petani), dilaksanakan secara demplot di seluruh provinsi dan lokakarya (pertemuan) testimoni petani atas penggunaan pestisida nabati.

Gambar 2. Penggunaan Pestisida Nabati di Provinsi Jambi

Gambar 3. Penggunaan Pestisida Nabati di Provinsi Sulawesi Tengah

Penulis: Bibit Bakoh dan Andi Asjayani

DAFTAR PUSTAKA

Bakoh, B., Rony, N., dan Annisa B. 2022. Efektivitas Insektisida Nabati Berbahan Aktif Eugenol dan Azadirachtin untuk Pengendalian Hama Penggerek Buah Kakao (Canopomorpha cramerella). Direktorat Perlindungan Perkebunan. Direkrotat Jenderal Perkebunan. Jakarta.

Margino, S. dan Mangoendihardjo, S. 2002. Pemanfaatan Keanekaragaman hayati untuk Biopestisida di Indonesia. Dalam Kumpulan Makalah Lokakarya Pemanfaatan Keanekaragaman Hayati untuk Perlindungan Tanaman. BBBT. Deptan, Dephut dan UGM. Yogyakarta.

Wiranti., E. W.  2005. Ulasan (Review) Pemasyarakatan Pengunaan Pestisida Nabati Dalam Mendukung Agribisnis. Planta Tropika. Vol. 1 (2): 84-88

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *