SISTEM PENDIDIKAN FINLANDIA SUATU ALTERNATIF SISTEM PENDIDIKAN ACEH

Posted on


SISTEM PENDIDIKAN FINLANDIA SUATU ALTERNATIF SISTEM
PENDIDIKAN ACEH

1. Falsafah negara dan politik

Sebagaimana diketahui bahwa falsafah dan politik adalah ruhnya pendidikan disebuah negara bahkan dianggap sebagai aqidah sistem pendidikan yang sedang dijalankan. Falsafah kenegaraan Finlandia adalah sosialis (komunis). Hal ini akibat dari pengaruh negara Swedia dan Russia sebagai negara yang pernah menjajahnya. Faham sosialis ini ikut mewarnai sistem pendidikan di Finlandia yaitu pendidikan bermazhab pragmatisme. Pendidikan agama diserahkan kepada orang tua masingmasing. Sekolah hanya mengajarkan etika, kedisiplinan dan nilainilai kebaikan saja. Sebelum tahun 1990 badan eksekutif Finlandia menginginkan negara Finlandia maju dalam bidang teknologi. Untuk itu pada tahun 1990 pemerintah Finlandia melakukan desentralisasi pendidikan dan mengadakan beberapa kebijakan utama dalam pendidikan seperti kurikulum nasional yang ketat dirubah menjadi sangat fleksibel. Dewan Nasional Pendidikan menyusun kurikulum inti nasional dan pedoman kualifikasi, menentukan tujuan, isi, dan indikator penilaian.

Kurikulum inti ditangani oleh komite pelatihan tripartit (pemerintah, dunia industri dan penyelenggara pendidikan dan pelatihan) yang berupa sebuah badan terdiri dari para ahli yang berada di bawah Kementrian Pendidikan untuk memberikan saran dalam merencanakan dan mengembangkan pendidikan termasuk pendidikan kejuruan dan pelatihan. Sebagaimana negara lainnya di dunia, negara Finlandia juga selalu terjadi pergantian pimpinan (presiden dan badan eksekutifnya), tetapi perubahan politik ini tidak merubah kebijakan pendidikan, sehingga apa yang diprogramkan oleh pemegang kekuasaan sebelumnya tentang kebijakan pendidikan dapat terus berjalan. Hasilnya hanya dalam masa 14
tahun Finlandia menjadi n
egara dengan pendidikan nomor satu di dunia.


2.
Guru
Di Finlandia g
uru merupakan profesi yang sangat dihargai meskipun gaji mereka tidak tinggi (3400 Euro setara 42 juta rupiah per bulan). Hal ini diperkuat dengan kebijakan perekrutan guru yang sangat ketat di Finlandia sehingga guru menjadi profesi yang prestisius. Sebagai perbandingan, di Amerika 47% guru berasal dari 1/3 mahasiswa dari peringkat bawah (akademik), di Finlandia calon guru berasal dari mahasiswa 10 besar di kampus yang masih akan disaring dengan lebih ketat. Siswa terbaik dari lulusan sekolah menengah atas memilih fakultas keguruan sebagai pilihan pertama kemudian baru kedokteran dan teknik. Dalam masa training calon guru ditemani oleh satu guru senior yang akan memberikan umpan balik atas materi yang akan diajarkan dan cara mengajar di kelas. Dengan demikian calon guru akan memiliki lebih banyak manfaat dari pengalaman guru senior. Profesi guru di Finlandia sangat menarik dan menantang.

Guru bahkan memiliki peran yang penting dalam penyusunan dan perubahan kurikulum. Penilaian (assessment) terhadap hasil belajar siswa lebih besar dilakukan oleh guru di kelas bukan dengan sistem ujian nasional. Hal ini dibuat karena guru kelaslah yang lebih mengenal kemampuan anaknya
secara mendetil dan menyeluruh
.
Di Finlandia guru tidak hanya sebagai pengajar tetapi mereka juga ahli di bidang
kurikulum, kurikulum di Finlandia berbeda
antar sekolah namun tetap berjalan di bawah panduan resmi pemerintah. Dalam satu kelas terdapat tiga orang guru (dua guru yang fokus pada penyampaian materi, satu orang guru menemani siswa yang masih tertinggal dalam pelajaran). Pemerintah Finlandia juga menetapkan standar tinggi untuk profesi guru. Semua guru wajib bergelar master strata satu (S1 tidak lagi dibolehkan menjadi guru meskipun di sekolah dasar. Proses seleksi tenaga pengajar pun sangat ketat, hanya yang menempati rangking 10 besar dari lulusan perguruan tinggi/fakultas keguruan yang bisa diterima menjadi guru. Mereka yang lulus seleksi ini pun masih harus melalui proses training yang kompleks terlebih dahulu sebelum dinyatakan siap berkecimpung dalam profesi guru. Finlandia percaya bahwa guru adalah modal utama untuk menghasilkan siswa atau warga negara yang unggul.


3.
Proses pendidikan
Pendidikan di Finlandia menekankan pada pentingnya
diagnosis dan intervensi dini terhadap kesulitan atau hambatan yang dihadapi murid dalam belajar. Berbeda dengan kebanyakan negara yang umumnya mendeteksi kesulitan dengan mengadakan evaluasi yang biasanya hanya mengukur satu komponen (tes cognitif). Finlandia bertindak dengan cara yang berbeda. Pendidikan di Finlandia percaya bahwa diagnosis atau deteksi dini dan intervensi dini adalah bagian dari proses belajar mengajar yang harus dilakukan. Sehingga setiap anak yang mengalami kesulitan dalam pembelajaran akan dideteksi lebih dini dan disediakan bantuan secara individual secepatnya untuk menghindari atau menangani masalah tersebut. Guru kelas di Finlandia dapat melakukan hal ini karena jumlah guru yang dapat mencapai tiga orang untuk satu kelas. Selain itu hanya 4 jam guru mengajar dalam sehari di Finlandia dan ditambah 2 jam untuk pengembangan diri dalam seminggu. Guru dalam 26 OECD ini ratarata mengajar 703 jam selama setahun, sedangkan guru di Finlandia mengajar hanya 592 jam selama setahun). Waktu ekstra guru di Finlandia lebih banyak digunakan untuk mendukung murid yang memerlukan perhatian khusus.


Murid yang memerlukan perhatian k
husus akan di bawa ke kelas yang terpisah dan disediakan rencana pembelajaran secara individual. Dengan cara seperti ini, pendidikan di Finlandia menjamin bahwa tidak ada murid yang tertinggal dalam pembelajaran. Tindakan ini mereka lakukan dengan sangat elegan. Di Finlandia bahkan ada ungkapan yang mengatakan bahwamurid khusus adalah murid yang selama pendidikannya belum pernah mendapatkan perhatian khusus. Hal ini menandakan bahwa di Finlandia pemberian perhatian khusus terhadap siswa merupakan hal yang sangat penting. Dukungan bagi guru yang menemukan murid yang membutuhkan perhatian khusus disediakan melaluitim perkembangan murid yang ada di setiap sekolah di Finlandia. Tim perkembangan murid ini terdiri dari guru kelas, psikolog sekolah, konselor pendidikan, dan kepala sekolah. Tim ini bertemu setiap minggu untuk membicarakan kasus yang ditemui pada murid seperti kekerasan, kesulitan belajar, dan perilaku non sosial, sehingga guru tidak merasa sendirian dalam menangani siswa yang memerlukan perhatian khusus. Setiap kasus dicari solusinya secara individual.


4. Evaluasi dan produk pendidikan

Dalam evaluasi sistem pendidikan Finlandia tidak ada
Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM) seperti di Indonesia, dan juga tidak ada ujian nasional (UAN), tetapi mereka menganut kebijakanautomatic promotion, naik kelas secara otomatis. Guru selalu siap membantu siswa yang tertinggal sehingga semua naik kelas. Jika kebanyakan negara percaya bahwa ujian dan evaluasi bagi siswa merupakan bagian yang sangat penting bagi kualitas 27 pendidikan, Finlandia justru beranggapan sebaliknyaTest Less Learn More” (kurangi tes perbanyak belajar). Banyak evaluasi itulah yang menghancurkan tujuan belajar siswa. Efek dari ujian (banyak ujian) adalah membuat guru cenderung mengajarkan kepada siswa untuk lulus dari ujian sematamata. Belajar hanya ingin mendapatkan nilai akademik
yang bagus dan istimewa. Faktor pemahaman dan pen
erapan menjadi elemen yang diremehkan. Evaluasi hasil belajar secara nasional dilakukan tanpa ada intervensi pemerintah sedikitpun. Karena setiap sekolah bahkan guru berkuasa penuh untuk menyusun kurikulumnya sendiri sesuai dengan kebutuhan sekolah dan membuat ujian sendiri. Siswa yang kurang cepat tanggap akan mendapatkan bimbingan yang lebih intensif. Pada usia 18 tahun siswa hanya perlu mengikuti matriculation examination untuk masuk perguruan tinggi. Ini pun untuk siswa yang berencana masuk ke perguruan tinggi saja. Hanya sekitar dua pertiga lulusan SMA melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi. Selebihnya masuk ke dunia kerja.


Sistem pendidikan Finlandia
telah menempatkan pendidikan Finlandia menjadi terbaik di dunia, Amerika Serikat berada di urutan ke 17. Rekor prestasi belajar siswa Finlandia adalah yang terbaik di negaranegara Organization for Economic Cooperation and Development (OECD) dan di dunia dalam kemampuan membaca, matematika dan sains. Ini adalah hasil yang dicapai para siswa Finlandia dalam tes Programme for International Student Assessment (PISA). Amerika Serikat dan Eropa dan seluruh dunia terkejut terhadap apa yang diperoleh oleh negara kutub utara ini, karena sebelumnya ia adalah sebuah negara agraris kecil yang tidak terkenal.


5
. Budaya Pendidikan
Masyarakat Finlandia sangat menghargai pendidikan. Hal ini
dapat dilihat terutama dari penghargaan masyarakat terhadap profesi guru. Suasana kekeluargaan yang akrab antara orang tua murid dengan guru sangat terasa di dalam rumahrumah warga Finlandia. Orang tua sangat sedikit memaksa anaknya untuk berprestasi tinggi dan inipun mereka lakukan dalam jangkauan yang wajar. Finlandia menggunakan filsafat pendidikan yang menyatakan setiap 28 orang memiliki sesuatu untuk disumbangkan dan mereka yang mengalami kesulitan di mata pelajaran tertentu semestinya tidak ditinggalkan. Para orang tua siswa Finlandia juga memiliki andil atas prestasi sekolah yang
mengesankan ini. Ada budaya membaca di kalangan anak-anak di rumah dan keluarga harus mengadakan kontak berkala dengan guru anak mereka. Mengajar adalah karir prestisius di Finlandia. Anak-anak belajar dalam suasana yang santai dan informal.


6. Biaya pendidikan

Anggaran pendidikan Finlandia memang sedikit lebih tinggi dibandingkan rata
rata negara di Eropa. Pemerintah Finlandia menyediakan anggaran 5.200 Euro atau sekitar Rp 70 juta untuk setiap siswa per tahun. Leo Pahkin, konselor pendidikan dari Badan Pendidikan Nasional Finlandia menyebutkan, setiap tahun ada sekitar 52.000 murid yang masuk sekolah dasar. Dengan demikian, anggaran yang disediakan pemerintah untuk murid pendidikan dasar
mencapai Rp 3,64 triliun per tahun.
19 Di Indonesia, anggaran pendidikan dasar sembilan tahun sekitar Rp 21 triliun dari total anggaran pendidikan nasional Rp 43,4 triliun per tahun. Namun, anggaran itu diperuntukkan bagi jutaan murid di seluruh Indonesia.


7
. Sistem pendidikan Finlandia
Pemerintah memberikan
perhatian terhadap pendidikan lebih besar dari sektor lainnya, karena dengan cara seperti ini secara otomatis sektor lain juga akan berkembang dengan sendirinya. Jika di negaranegara maju memberlakukan “standardized test” untuk mengukur kemajuan siswa di sekolah, Finlandia tidak melakukan hal ini. Sistem pendidikan Finlandia berkeyakinan kemampuan murid tidaklah sama, jadi melakukan tes baku untuk semua murid sama sekali tidak menghasilkan mutu pendidikan yang baik. Di samping itu pendidikan di Finlandia tidak memotivasi siswa untuk menjadi siapa yang terpandai di sekolahnya (no competition), namun lebih menekankan bagaimana membentuk “learning community” yaitu menggabungkan guru sebagai pendidik, siswa sebagai anak didik, dan masyarakat sebagai bagian dari pendidikan, sehingga kolaborasi ini yang membuat pendidikan lebih unggul karena semua merasa bertanggung jawab akan proses pendidikan 29 Hal menarik lainnya, mayoritas sekolah di Finlandia tidak “menjual” nama. Namun mutu seluruh sekolah di Finlandia adalah sama, jadi tidak ada perbedaan. Orang tua dapat dengan mudah memilih sekolah mana saja untuk anaknya tanpa harus ragu akan kualitas sekolah tersebut. Yang membedakannya adalah hanya pada 2 hal: Setiap sekolah memiliki pelajaran bahasa asing yang berbeda dan olahraga khusus, sehingga para orang tua dapat memilih bahasa asing dan olahraga terbaik bagi anak mereka. Sekolahan tingkat dasar dan menengah digabung, sehingga murid tidak perlu berganti sekolah pada usia 13 tahun. Dengan cara ini mereka terhindar dari masa peralihan yang bisa mengganggu dari satu sekolah ke sekolah lain.


P
endidikan di Finlandia juga tidak membebankan siswa melakukan banyak PR atau tugas, jika dibandingkan dengan Amerika yang membebankan siswa melakukan “homework” selama 23 jam/hari maka Finlandia hanya memberlakukan maksimum 30 menit/hari. Mereka berkeyakinan “homework doesn’t make you smart”. Guru di Finlandia lebih mengedepankan proses pembelajaran di mana siswa dapat menyerap apa yang dipelajari di kelas dibandingkan apa yang mereka dapat lakukan di luar kelas. Bahkan dalam satu kelas terdapat 2 guru untuk memberikan hak belajar yang sama pada setiap siswa ditambah dengan satu orang guru yang memfokuskan diri pada mengajar. Sistem pendidikan di Finlandia juga berkeyakinan “pendidikan yang baik tidak terletak pada hasil yang baik”. Oleh karena itu “standardized test” hanya sebagai patokan namun bukan landasan. Standardize test hanya menghabiskan biaya negara bermilyarmilyar setiap tahun untuk membuat soal ujian, namun hanya beberapa individu saja yang bermutu. Setiap siswa tidak memiliki kemampuan yang sama untuk melakukan tes yang sama.
Sebagai contoh
ketika melakukan “medical checkup” tidak perlu menyedot seluruh darah yang ada di badan untuk mengetahui penyakit apa yang diidap, tetapi cukup dengan mengambil beberapa tetesan saja. Demikian juga dalam lingkup pendidikan, tidak perlu mengetes seluruh siswa tapi cukup dengan “randomized sample” untuk mewakili, namun dengan prosedur dan sistem yang valid. Finlandia juga menerapkan pendidikan antisipatoris yaitu untuk setiap bayi yang lahir kepada keluarganya diberimaternity package yang berisi 3 buku bacaan untuk ibu, ayah, dan bayi itu sendiri. Alasannya pendidikan dasar anak usia dini adalah tahap belajar pertama dan paling kritis dalam belajar sepanjang hayat. Sebesar 90% pertumbuhan otak terjadi pada usia balita dan 85% brain paths berkembang sebelum anak masuk SD (7 tahun).

x
Advertisements

Leave a Reply

Your email address will not be published.